Niat Itu Menentukan
Menyelami hadis pertama yang hampir selalu membuka pintu ilmu
Pernahkah kamu melakukan kebaikan, lalu bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya aku melakukan ini untuk siapa?” Pertanyaan sederhana itu sudah lama dijawab oleh sebuah hadis yang sangat dikenal, hadis tentang niat.
Hadisnya
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya kurang lebih begini: nilai sebuah amal ditentukan oleh niat di baliknya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia tuju. Orang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya akan mendapatkan hijrah yang benar-benar tertuju kepada-Nya. Sebaliknya, orang yang berhijrah demi keuntungan dunia atau untuk menikahi seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia kejar itu.
Hadis ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dan tercatat dalam Shahih Bukhari (nomor 1) serta Shahih Muslim (nomor 1907). Imam an-Nawawi juga menempatkannya di urutan pertama dalam kumpulan Arba’in.
Mengapa Selalu Jadi Pembuka?
Kalau kamu membuka Shahih Bukhari, hadis inilah yang pertama kali menyambutmu. Imam an-Nawawi pun memulai Arba’in dan Riyadhus Shalihin dengan hadis yang sama. Para ulama memandangnya sebagai pengingat bagi siapa pun yang hendak menulis atau mengajarkan ilmu: luruskan dulu tujuanmu sebelum melangkah.
Kedudukannya dalam agama juga sangat besar. Para ulama menyebutnya sebagai salah satu poros ajaran Islam. Ada yang menukil bahwa Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menyebut hadis ini mencakup sepertiga ilmu. Alasannya, setiap amal manusia melibatkan hati, lisan, dan anggota badan, dan niat adalah urusan hati yang menjadi awal dari semuanya.
Satu hal yang menarik, hadis ini menunjukkan bahwa niat bisa mengubah nilai sebuah perbuatan. Amal yang tampak mulia bisa kehilangan maknanya bila niatnya melenceng, sedangkan aktivitas biasa seperti bekerja, makan, atau tidur bisa bernilai ibadah bila diniatkan karena Allah.
Sebagai catatan, ada kisah yang sering dikaitkan dengan sebab munculnya hadis ini, yaitu tentang seorang laki-laki yang berhijrah demi menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Sebagian ulama mempermasalahkan kekuatan sanad kisah ini, jadi lebih aman bila tidak dijadikan inti pembahasan.
Dari Hadis ke Keseharian
Niat bukan sekadar ucapan di awal, melainkan sesuatu yang perlu dijaga sepanjang perjalanan. Ada tiga kebiasaan kecil yang bisa dicoba.
Berhenti sejenak sebelum memulai. Sebelum bekerja, belajar, atau menulis, ajukan satu pertanyaan kepada dirimu: untuk apa aku melakukan ini? Jeda beberapa detik itu sering cukup untuk meluruskan arah.
Sambungkan urusan dunia dengan tujuan akhirat. Bekerja bisa diniatkan untuk menafkahi keluarga dan menjaga diri dari bergantung pada orang lain. Belajar bisa diniatkan untuk mengusir kebodohan. Berbagi ilmu bisa diniatkan untuk memberi manfaat, bukan untuk mengejar pujian atau angka pembaca.
Periksa lagi di tengah jalan. Niat yang awalnya lurus bisa bergeser pelan-pelan, terutama ketika amal kita mulai disorot atau dipuji. Di saat seperti itu, perbarui niat dengan doa sederhana: “Ya Allah, jadikan ini ikhlas karena-Mu.”
Bagi yang gemar berbagi ilmu, cobalah ini: sebelum menekan tombol “publikasi”, tarik napas sebentar dan bisikkan, “Semoga tulisan ini bermanfaat, dan semoga aku yang pertama kali mengamalkannya.”
Untuk Direnungkan
Satu aktivitas rutin apa yang pekan ini akan aku lakukan dengan niat yang diperbarui, dan apa niat barunya?
Dan satu pertanyaan lagi, yang mungkin lebih menohok: jika tidak ada seorang pun yang tahu atau memuji, apakah aku tetap akan melakukannya?







No comments:
Post a Comment